Featured Post

What you will find in Tarutung City?

Tentang "Pagi" Kita


Pagi adalah musuh bagi orang-orang dengan sejuta kesibukan. Namun tidak bagi Ayahku, bagi beliau, pagi adalah sahabat yang senantiasa memberinya semangat untuk memulai hari. Kopi panas dengan gula setengah sendok makan menjadi teman di pagi hari. Koran pagi menjadi santapan yang mengenyangkan kepalanya yang penuh dengan pikiran itu. Ayah merupakan pria yang senantiasa memberiku kejutan akan sikap dan sifatnya yang mengagumkan dan tidak terduga itu. Cerminan pangeran dalam mimpi kanak-kanakku, pelindung dalam setiap takut dan tangisku, dan alasanku untuk hidup dan bahagia.
“Adek, kopi Ayah taruh di teras depan ya. Ayah mau menikmati pagi dari teras depan dulu.” Pinta Ayah sembari tersenyum, senyum yang menjadi favoritku dari wajah tua dan lelahnya itu. Biasanya Ayah minum kopi paginya di gasibu belakang rumah, namun sekarang tampaknya Ayah sedang mencoba suasana baru, pikirku.
“Siap Ayah, mau Kris bawakan sarapan pagi Ayah jugakah?”
“Boleh, Ayah tunggu ya. Sekalian bawa punya adek juga ya. Ayah ingin bersenda gurau dengan Kris.” Aku pun mengangguk untuk menyetujui permintaan Ayah. Kris adalah nama panggilan dari kecil pemberian Ayah untukku, sedangkan nama lengkapku adalah Chrisna Alexia, yang berarti Putri keluarga Alexander yang penuh kasih.
“Adek tahu tidak mengapa kebanyakan orang membenci kata ‘pagi’?” tanya  Ayah ketika aku telah duduk di sampingnya.
“Karena pagi berarti kehidupan yang baru dengan segala kesibukannya telah menunggu di depan mata. Karena pagi berarti harus meninggalkan sahabat paling setia manusia alias tempat tidur. Haha.” Jawabku asal sambil tertawa dan aku melihat Ayah turut tertawa dengan candaan garingku.
“Kedua poin yang Kris sampaikan, bener loh! Tapi yang paling penting adalah sebagian besar manusia membenci pagi karena mereka tidak menikmati suasana pagi itu sendiri. Ketika pagi tidak dinikmati maka rasa syukur tidak keluar dari perasaan manusia atas keindahan suatu kata yang kita sebut ‘pagi’. Hal yang malahan muncul hanya perasaan tidak ingin keluar dari kenyamanan tempat tidur, perasaan tertekan karena harus mengejar target dalam setiap kesibukan yang sedang dijalani.”
“Seperti yang Ayah bilang, sebagian besar manusia memiliki pola pikir yang berpusat pada target yang ingin dicapai, mimpi dan impian yang ingin dijadikan nyata dan sebagainya, Yah. Karena itu, pagi menjadi musuh bagi orang-orang yang hidupnya penuh dengan target yang ingin dicapai.”
“Nah, karena itu, Dek. Seharusnya ketika seorang manusia memiliki banyak target yang ingin dicapai, pagi bukanlah menjadi musuh melainkan sahabat bagi orang tersebut untuk memulai tahapan pencapaian targetnya. Iyakan, Dek?”
“Bener juga ya, Yah. Pagi seharusnya menjadi sahabat bagi orang yang penuh dengan target. Tetapi, mengapa kebanyakan orang dengan target yang penuh dalam daftar mereka malahan membenci pagi, contohnya Kris, ya Yah?”
“Coba, Kris jawab sendiri sebagai satu dari banyak orang yang membenci kata ‘pagi’?”
“Hmmmm. Apa ya, Yah?”
“Ohh, Kris tahu. Mungkin karena tempat tidur dengan mimpi indah sebagai bumbunya lebih nyaman daripada kenyataan, Yah. Hahaha.” Jawabku sambil bercanda lagi. Ayah hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Oke, bisa jadi Dek. Haha. Tetapi menurut Ayah sebagai orang tua dari salah satu orang yang membenci kata pagi, alasannya adalah........”  Ayah terdiam sebentar dan tidak melanjutkan perkataannya, padahal putri bungsunya ini sudah sangat penasaran. Dasar Ayah, gumamku dalam hati.
“Apa ya Dek? Kog Ayah malah lupa. Haha.” Ucapnya dengan wajah polos nan bingung miliknya. Sepertinya  tanda-tanda penuaan diumur 50annya sudah mulai bermunculan, salah satunya sifat pikun beliau.
“Oh, Ayah ingat Dek. Adek sebenarnya sudah mengucapkannya duluan. Tadi Kris bilang begini, ‘Sebagian besar manusia memiliki pola pikir yang berpusat pada target yang ingin dicapai, mimpi dan impian yang ingin dijadikan nyata dan sebagainya’. Ayah garis bawahi kata berpusat, ya Dek. Pagi menjadi musuh sebagian besar orang dimana sebagain besar orang tersebut penuh dengan target karena mereka berpusat pada target tersebut. Atau sederhananya, kebanyakan manusia berpusat pada hasil akhir dari suatu target, mimpi dan impian. Dan melupakan hal yang paling penting dalam mencapai sebuah target, yaitu apa coba Dek?”
“Hmmmmm, Kris coba ya, Yah. Hal yang paling penting dalam mencapai sebuah target setelah Kris pikir-pikir adalah proses mungkin, Yah?”
“Ya, betul sekali. Oleh karena itu, pagi bukanlah musuh bagi orang bertarget besar melainkan sahabat. Gimana caranya menjadikan pagi sebagai sahabat, Dek?”
“Menikmati suasana pagi sehingga rasa syukur muncul dan juga menikmati proses untuk mencapai target tersebut, Yah. Hehe.” Jawabku terkekeh.
“Pintar. Putri kecil Ayah sudah makin dewasa ternyata, ya.” Ucap Ayah sambil membawaku dalam pelukan hangatnya melawan dinginnya suasana pagi di Kota Kembang ini.
“Yah, Kris sudah besar loh! Kris sudah umur 21 tahun.” Ucapku seakan tak setuju dengan panggilan putri kecil dari Ayah. Derita menjadi seorang putri bungsu adalah senantiasa dianggap masih kecil walaupun umur sudah menginjak tahapan dewasa. Namun, aku tetap suka dan merasa bahagia ketika Ayah memanggilku dengan sebutan itu.
Lamunanku tentang masa itu buyar. Dulu, ya dulu, pagiku senantiasa dimulai dengan adu pendapat dan berbagi pengetahuan dengan Ayah. Terkadang kami hanya bercerita tentang apapun yang ingin kami perdengarkan. Dan pagi tentang kata ‘pagi’ menjadi percakapan terakhirku dengan Ayah. Karena setelahnya, ketika aku disibukan dengan urusan kuliahku saat itu, Ayah tengah meregang nyawa di mobil ambulans yang membawanya ke Rumah Sakit. Ya, pagi itu dalam perjalanan beliau menuju kantor, Ayah mengalami kecelakaan yang cukup fatal sehingga mampu merenggut nyawa Ayahku yang berharga.
“Yah, sudah enam tahun sejak Ayah pergi. Kris rindu. Kris rindu Ayah panggil adek, Kris rindu Ayah panggil putri kecil Ayah. Oh iya, Yah. Kekasih tercinta Ayah masih sehat, Yah. Tapi Ibu sedikit kelelahan sehingga tidak bisa ikut jenguk Ayah disini. Ibu kirim salam, Yah.” Ujarku di hadapan nisan Ayah yang sangat kubanggakan itu. Walau sudah enam tahun semenjak kepergian Ayah, air mataku tetap tak bisa diajak bersahabat ketika datang ke rumah Ayah sekarang.
“Oh iya, Yah, kedatangan Kris kali ini, Kris bawa kabar bahagia yang pasti bakal buat Ayah tersenyum beribu kali lebih bahagia dari yang sebelumnya. Yah, Kris sedang mengandung cucu Ayah. Putri kecil Ayah akan menjadi seorang ibu, Yah. Ayah pernah bilang kalau impian terbesar Ayah adalah melihat putri kecil Ayah ini menjadi seorang ibu, kan ya? Sekarang impian Ayah mulai akan menjadi kenyataan, Yah. Doakan Kris, ya Yah. Semoga Kris senantiasa menikmati pagi yang Kris punya dan menikmati proses Kris untuk mencapai impian Ayah. Doakan Kris dan Alo agar menjadi calon ibu dan ayah yang luar biasa seperti Ayah dan Ibu selama ini. Bahkan kalau boleh, melebihi kalian berdua, Yah.”
“Yah, lagi-lagi Kris ingin mengucapkan terimakasih untuk setiap teladan yang Ayah berikan buat Kris. Untuk semua kasih sayang dan kebahagiaan yang Ayah senantiasa utamakan dalam hidup Kris. Terimakasih karena selalu berjuang menyukai pagi demi Kris, Kak Tian dan Kak Tina juga Ibu. Ayah, Kris dan Alo pamit pulang, ya. Chrisna janji, Kris akan lebih sering datang untuk berbagi perkembangan cucu kecil Ayah. Kris dan Alo pergi ya, Yah.”
Ayah, ayah bukan tentang seberapa banyak uang yang beliau hasilkan untuk menghidupi keluarganya. Ayah bukan tentang seberapa berkharisma dan tegasnya beliau di hadapan karyawannya. Tetapi ayah adalah tentang senyum, pengetahuan, pengalaman, tawa, dan waktu yang beliau punya untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Karena ayah adalah tentang menikmati pagi dan bersyukur karenanya.

Komentar